"Ya, makasih" kataku, kemudian menyeruput minuman kesukaanku.
Namaku Agatha Caroline. Aku adalah seorang fashion designer. Biasa orang-orang memanggilku dengan sebutan Agatha, kecuali sahabatku yang memanggilku Nona es soda gembira. Julukan itu muncul saat aku duduk di bangku kelas 3 SMA.
*Flashback*
Sinar mentari pagi menemani langkahku menuju kelas tercinta dimana aku bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Ia bernama Michael. Perawakannya yang tampan dengan kulit sawo matang, tubuh yang tinggi dan kemahirannya dalam memetik senar-senar gitar, membuatku terpikat olehnya. Hanya saja, ia adalah sosok yang pendiam.
Berbagai cara kulakukan untuk bisa dekat dengannya, dimulai dari bantuan sahabatku hingga mengikuti metode di internet maupun di buku. Tapi semua yang kulakukan hasilnya nol besar.
Hari ini berbeda dengan hari-hari biasanya, karena hari ini kelasku akan latihan musikalisasi puisi untuk penampilan di perpisahan sekolah.
"Boleh istirahat dulu gak sih?" kata Thomas ketika kami akan memulai latihan.
"Baru juga mau mulai, udah minta istirahat aja. Latihan dulu baru istirahat" sahut ketua kelas.
"Yaudah, buruan. Abis itu istirahat" ucap Thomas dengan gaya khasnya.
Kami pun segera memulai latihan musikalisasi puisi yang belum sepenuhnya selesai.
"Mau ikut ke kantin gak?" ujar Vella, sahabatku.
"Mau" kataku dan Lydia berbarengan, kemudian berjalan menuju kantin bersama.
Seperti biasa apapun makanan yang kumakan, pasti selalu ada minuman kesukaanku yaitu es susu soda gembira.
"Makan di kelas aja yuk, sekalian bantu cari ide buat musikalisasi puisi" ucapku.
"Mau modus ya" goda Vella sambil menatapku.
"Hm" gumamku.
Setelah memesan makanan, kami segera menuju kelas sambil membawa makanan dan minuman ke kelas. Senda gurau tak terelakkan selama perjalanan menuju kelas.
"Oops" ucapku ketika minuman kesayanganku tumpah karena bertabrakan dengan pria yang selama ini menarik hatiku.
"Maaf, aku gak sengaja. Akan kuganti" ujarnya
"Gak usah, gak apa-apa kok" ujarku sambil tersenyum padanya.
"Ayoooo" sahut Lydia sambil menarikku ke dalam kelas.
"Tunggu, aku ingin membersihkan"
"Sudah pakai tisu basahku saja" ujar Lydia memotong pembicaraan.
Di dalam kelas, aku dan sahabatku menyantap makanan yang telah kami pesan di kantin.
"Ini, sebagai ganti yang tadi" ujar Michael sambil menaruh segelas es susu soda di mejaku yang membuatku diam membeku menatapnya.
Kupikir apa yang kualami saat ini adalah mimpi. Aku mencoba untuk membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Kalaupun mimpi, kuharap mimpi ini tidak akan pernah berakhir.
"Hm... nona es susu soda gembira" celetuk Vella yang membuat kesadaranku kembali.
Aku sama sekali tidak meminum pemberiannya. Bukan karena aku tidak menyukainya, hanya saja aku tidak ingin menghilangkan apa yang menjadi pemberiannya. Apa lagi ini adalah hal yang langka.
Setiap hari aku membuka kulkas di rumahku untuk melihat es susu soda pemberiannya. Hingga detik ini aku masih tidak percaya jika itu adalah pemberian dari orang yang kuimpikan.
"Kuharap hari ini akan indah seperti yang kuharapkan" ujarku sambil menatap es susu soda gembira.
Aku pun menaruh kembali gelas tersebut ke dalam kulkas dan menutup pintunya.
Di hari yang indah sekaligus menyedihkan ini, aku dan teman-temanku akan melakukan perpisahan sekolah. Setelah meneguhkan hati dan jiwaku, aku berjalan menuju tempatku menempuh pendidikan.
"Gatha" panggil Lydia dari belakang yang membuat langkahku terhenti.
"Kau memanggilku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.
"Iya, Nona es susu soda gembira" kata Lydia sambil berjalan menuju kelas bersamaku.
"Ada apa?"
"Kau yakin dengan rencanamu?"
"Entahlah, aku ragu"
"Jangan ragu akan rencanamu. Mau sampai kapan kau memendamnya, yang ada kau malah terluka karenanya"
"Hh, entahlah" ujarku dengan nada melemah.
Langkahku dan Lydia terhenti ketika melihat Michael tertawa dan berbicara akrab dengan seorang siswi teman sekelasku.
Aku pun segera berlari ke tempat dimana aku tidak bisa melihatnya bersama siswi tersebut. Rasanya aku ingin menangis dan menjerit sekencang-kencangnya saat ini juga. Entah mengapa langkah kakiku berhenti di kolam renang sekolah. Disinilah aku terdiam menatap air kolam. Masih terlintas dipikiranku bagaimana Michael bersama siswi itu.
"Agatha" panggil seseorang dengan suara beratnya.
"Hm" gumamku sambil membalikkan tubuhku menatap pria yang saat ini tidak ingin kulihat.
"Apakah kau sedang menunggu seseorang?" tanya Michael sambil menghampiriku dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Tidak ada" ujarku dengan senyum yang dipaksakan.
"Hm" gumamnya.
Ia memberikan sebuah surat padaku kemudian pergi meninggalkanku yang membeku dengan secarik kertas di tanganku.
Namaku Agatha Caroline. Aku adalah seorang fashion designer. Biasa orang-orang memanggilku dengan sebutan Agatha, kecuali sahabatku yang memanggilku Nona es soda gembira. Julukan itu muncul saat aku duduk di bangku kelas 3 SMA.
*Flashback*
Sinar mentari pagi menemani langkahku menuju kelas tercinta dimana aku bisa bertemu dengan sang pujaan hati. Ia bernama Michael. Perawakannya yang tampan dengan kulit sawo matang, tubuh yang tinggi dan kemahirannya dalam memetik senar-senar gitar, membuatku terpikat olehnya. Hanya saja, ia adalah sosok yang pendiam.
Berbagai cara kulakukan untuk bisa dekat dengannya, dimulai dari bantuan sahabatku hingga mengikuti metode di internet maupun di buku. Tapi semua yang kulakukan hasilnya nol besar.
Hari ini berbeda dengan hari-hari biasanya, karena hari ini kelasku akan latihan musikalisasi puisi untuk penampilan di perpisahan sekolah.
"Boleh istirahat dulu gak sih?" kata Thomas ketika kami akan memulai latihan.
"Baru juga mau mulai, udah minta istirahat aja. Latihan dulu baru istirahat" sahut ketua kelas.
"Yaudah, buruan. Abis itu istirahat" ucap Thomas dengan gaya khasnya.
Kami pun segera memulai latihan musikalisasi puisi yang belum sepenuhnya selesai.
"Mau ikut ke kantin gak?" ujar Vella, sahabatku.
"Mau" kataku dan Lydia berbarengan, kemudian berjalan menuju kantin bersama.
Seperti biasa apapun makanan yang kumakan, pasti selalu ada minuman kesukaanku yaitu es susu soda gembira.
"Makan di kelas aja yuk, sekalian bantu cari ide buat musikalisasi puisi" ucapku.
"Mau modus ya" goda Vella sambil menatapku.
"Hm" gumamku.
Setelah memesan makanan, kami segera menuju kelas sambil membawa makanan dan minuman ke kelas. Senda gurau tak terelakkan selama perjalanan menuju kelas.
"Oops" ucapku ketika minuman kesayanganku tumpah karena bertabrakan dengan pria yang selama ini menarik hatiku.
"Maaf, aku gak sengaja. Akan kuganti" ujarnya
"Gak usah, gak apa-apa kok" ujarku sambil tersenyum padanya.
"Ayoooo" sahut Lydia sambil menarikku ke dalam kelas.
"Tunggu, aku ingin membersihkan"
"Sudah pakai tisu basahku saja" ujar Lydia memotong pembicaraan.
Di dalam kelas, aku dan sahabatku menyantap makanan yang telah kami pesan di kantin.
"Ini, sebagai ganti yang tadi" ujar Michael sambil menaruh segelas es susu soda di mejaku yang membuatku diam membeku menatapnya.
Kupikir apa yang kualami saat ini adalah mimpi. Aku mencoba untuk membuktikan bahwa ini bukan mimpi. Kalaupun mimpi, kuharap mimpi ini tidak akan pernah berakhir.
"Hm... nona es susu soda gembira" celetuk Vella yang membuat kesadaranku kembali.
Aku sama sekali tidak meminum pemberiannya. Bukan karena aku tidak menyukainya, hanya saja aku tidak ingin menghilangkan apa yang menjadi pemberiannya. Apa lagi ini adalah hal yang langka.
Setiap hari aku membuka kulkas di rumahku untuk melihat es susu soda pemberiannya. Hingga detik ini aku masih tidak percaya jika itu adalah pemberian dari orang yang kuimpikan.
"Kuharap hari ini akan indah seperti yang kuharapkan" ujarku sambil menatap es susu soda gembira.
Aku pun menaruh kembali gelas tersebut ke dalam kulkas dan menutup pintunya.
Di hari yang indah sekaligus menyedihkan ini, aku dan teman-temanku akan melakukan perpisahan sekolah. Setelah meneguhkan hati dan jiwaku, aku berjalan menuju tempatku menempuh pendidikan.
"Gatha" panggil Lydia dari belakang yang membuat langkahku terhenti.
"Kau memanggilku?" tanyaku sambil menunjuk diriku sendiri.
"Iya, Nona es susu soda gembira" kata Lydia sambil berjalan menuju kelas bersamaku.
"Ada apa?"
"Kau yakin dengan rencanamu?"
"Entahlah, aku ragu"
"Jangan ragu akan rencanamu. Mau sampai kapan kau memendamnya, yang ada kau malah terluka karenanya"
"Hh, entahlah" ujarku dengan nada melemah.
Langkahku dan Lydia terhenti ketika melihat Michael tertawa dan berbicara akrab dengan seorang siswi teman sekelasku.
Aku pun segera berlari ke tempat dimana aku tidak bisa melihatnya bersama siswi tersebut. Rasanya aku ingin menangis dan menjerit sekencang-kencangnya saat ini juga. Entah mengapa langkah kakiku berhenti di kolam renang sekolah. Disinilah aku terdiam menatap air kolam. Masih terlintas dipikiranku bagaimana Michael bersama siswi itu.
"Agatha" panggil seseorang dengan suara beratnya.
"Hm" gumamku sambil membalikkan tubuhku menatap pria yang saat ini tidak ingin kulihat.
"Apakah kau sedang menunggu seseorang?" tanya Michael sambil menghampiriku dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celananya.
"Tidak ada" ujarku dengan senyum yang dipaksakan.
"Hm" gumamnya.
Ia memberikan sebuah surat padaku kemudian pergi meninggalkanku yang membeku dengan secarik kertas di tanganku.
Aku mulai membaca kata demi kata yang ia rangkai di kertas tersebut. Tanpa terasa aku mulai berkaca-kaca dan setetes cairan bening mulai turun dari mataku.
*flashback selesai*
"Sudah kukatakan untuk tidak minum soda terlalu banyak, mengapa kau tidak mendengarku?" ucap seorang direktur perusahaan terkenal yang tidak lain dan tidak bukan adalah kekasihku sendiri, Michael.
"Aku hanya menginginkannya, lagipula tidak setiap hari aku meminumnya" ucapku membela.
"Tapi tetap saja hitungannya sering"
"Huh, baiklah. Aku mengaku salah. Tapi bagaimana kau bisa disini?"
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu dimana kekasihku sendiri?"
"Hm... Kau mengikutiku ya?"
"Aku tidak mengikutimu, tapi cinta yang membuatku bisa sampai disini"
"Benarkah? Aku tidak percaya dengan kata-katamu"
"Dibagian mana yang tidak kau percaya?"
"Semuanya. Sudahlah, jika berdebat denganmu pasti tidak akan ada habisnya. Lebih baik kau pesan makanan di jam istirahatmu, direktur"
"Baiklah, Nona" katanya kemudian pergi menuju tempat pemesanan makanan di restoran ini.
"Aku hanya menginginkannya, lagipula tidak setiap hari aku meminumnya" ucapku membela.
"Tapi tetap saja hitungannya sering"
"Huh, baiklah. Aku mengaku salah. Tapi bagaimana kau bisa disini?"
"Bagaimana mungkin aku tidak tahu dimana kekasihku sendiri?"
"Hm... Kau mengikutiku ya?"
"Aku tidak mengikutimu, tapi cinta yang membuatku bisa sampai disini"
"Benarkah? Aku tidak percaya dengan kata-katamu"
"Dibagian mana yang tidak kau percaya?"
"Semuanya. Sudahlah, jika berdebat denganmu pasti tidak akan ada habisnya. Lebih baik kau pesan makanan di jam istirahatmu, direktur"
"Baiklah, Nona" katanya kemudian pergi menuju tempat pemesanan makanan di restoran ini.

Judul : Nona Es Susu Soda Gembira
BalasHapusPengarang Christina Aquilera
Kelebihan :
1. Alur cerita yang sederhana tetapi menarik.
2. Gaya bahasa nyaman dan mudah untuk dibaca.
Kelemahan :
1. Ada beberapa kata ganti yang kurang tepat. Contohnya seperti kata "kau" dapat diganti dengan kata "kamu".
Jadi, kelebihan dari cerpen ini adalah memiliki alur sederhana dan menarik dan gaya bahasa tepat dan membuat para pembaca tidak bosan. Tetapi, ada beberapa kata yang kurang tepat untuk dipakai di kalimat tersebut.
Terima kasih telah memberikan komentar mengenai kelebihan dan kekurangan cerpen ini...
Hapus